MENGHARGAI KEUNIKAN ANAK

0
301

rantepaopos.com- Tana Toraja-Pergelaran Ujian Nasional ataupun UNBK menyita banyak waktu bagi masyarakat di dunia pendidikan. Banyak sekolah yang sudah mempersiapkan siswa-siswinya untuk menghadapi Ujian Nasional, baik melalui simulasi Ujian Nasional/Try Out  maupun mengadakan les tambahan setelah pulang sekolah. Banyaknya kegiatan persiapan tersebut bahkan membuat tidak sedikit siswa yang mengalami depresi ataupun kelelahan hingga jatuh sakit karena harus mencapai target nilai yang diinginkan guru maupun orangtua.

Selain itu, banyak orangtua maupun guru yang menuntut anak begitu keras untuk mencapai nilai yang bagus pada Ujian Nasional. Orientasi pada nilai Ujian Nasional yang tinggi adalah yang terbaik masih sangat melekat pada orang tua maupun guru. Tidak jarang dalam mencapai target nilai tersebut orangtua, guru maupun anak sendiri melakukan kecurangan untuk mendapatkannya. Kebocoran soal ujian ataupun kunci jawaban masih sering terjadi di Indonesia. Akibatnya mereka bukan lagi melihat usaha selama proses belajar anak, tetapi lebih kepada mencapai nilai dari sebuah ujian.

Memang benar bahwa nilai  dapat menunjukkan tolak ukur dari kemampuan siswa. Akan tetapi, nilai yang tinggi belum tentu menentukan kesuksesan seorang anak. Orang tua maupun guru masih banyak melihat kesuksesan anak dari nilai yang didapatkannya bukan pada usaha dan proses yang telah dialami oleh anak. Dalam mendidik anak sering kali orangtua maupun guru, bahkan mengajari anak diluar dari kemampuannya sendiri. Maksudnya adalah ada banyak guru maupun orang tua menuntut anak dengan standar yang sesunggguhnya mereka juga sulit untuk kerjakan. Misalnya saja ada orang tua yang menuntut anaknya untuk rajin dan bekerja keras dalam belajar, tetapi pada kenyataannya orangtua sendiri sering bangun kesiangan untuk mempersiapkan makanan di pagi hari. Selain itu, ada guru yang menuntut muridnya untuk selalu datang tepat waktu ke sekolah padahal guru sendiri sering datang terlambat ke sekolah. Hal ini menunjukkan ketidakkonsistenan orangtua maupun guru dalam mendidik anak.

Dalam mendidik anak sering juga ditemukan bahwa baik orangtua maupun guru sering menuntut anak di luar kemampuannya. Misalnya, seorang anak yang kesulitan dalam pelajaran matematika harus dituntut untuk bisa mengerti matematika dengan berbagai macam cara. Seorang anak dipaksa untuk menyukai dan memahami matematika dengan baik padahal anak tersebut menyukai musik.

Mendidik anak adalah mendidik pribadinya. Setiap anak memiliki pribadi yang unik. Kata pribadi dalam KBBI memiliki arti manusia sebagai perseorangan, keadaan manusia sebagai perseorangan; keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang. Sedangkan kata unik memiliki arti tersendiri dalam bentuk atau jenisnya; lain daripada yang lain; dan khusus. Pribadi unik seorang anak adalah keadaan diri anak sebagai perseorangan yang memiliki watak/kecerdasan yang khusus dan berbeda dari yang lainnya. Hal ini adalah keistimewaan dari setiap anak bahwa mereka adalah pribadi yang unik dan pasti memiliki potensi yang berbeda dengan yang lainnya.

Setiap orangtua maupun guru harus menghargai keunikan anak yang mereka didik. Dalam hal ini bukan berarti tidak boleh menuntut anak untuk berusaha, akan tetapi perlu melihat kesulitan anak dalam belajar. Orang tua maupun guru harus memiliki kepekaan dalam melihat potensi anak sehingga dapat mendorong mereka sesuai dengan potensi yang dimiliki. Hal ini akan menjadi tantangan bagi orangtua maupun guru yang mungkin dilema dalam mendidik anak. Menuntut anak untuk mendapatkan nilai yang bagus sebenarnya tidak masalah, akan tetapi perlu melihat kemampuan yang dimiliki oleh seorang anak. Orang tua dan guru harus mengerti akan keunikan setiap anak yang mereka dididik. Bukan berarti mengabaikan standar nilai, tetapi lebih kepada menghargai potensi yang dimiiki setiap anak. Sebagai contoh Thomas alva Edison yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap terlalu bodoh oleh guru-gurunya di sekolah, ternyata membuktikan bahwa dia punya potensi hingga menemukan lampu listrik dan sampai saat ini sangat bermanfaat bagi banyak orang. Kesuksesan Thomas Alva Edison ini juga bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena kegigihan ibunya yang tekun dalam mendidiknya. Setiap anak punya potensi dan mereka adalah pribadi yang unik. Mari belajar untuk menghargai setiap keunikan anak dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here